Subscribe Us


 

RPM Gelar Pemotretan Ratusan Anak Bertajuk 100 Foto Untuk Anak Indonesia

KabarPublik-Jakarta

Berangkat dari keinginan untuk memberikan ruang fotografi bagi anak-anak Indonesia, Rumah Photo MUA dan Model (RPM), sanggar Starkid, Spectre dan Plaza Kalibata Jakarta, menggelar acara pemotretan ratusan anak dengan tajuk 100 Foto Untuk Anak Indonesia.
Para peserta 100 Foto Untuk Anak Indonesia

Penggagas acara tersebut, Hendra Lesmana, yang juga pendiri RPM mengatakan, acara ini memang dikhususkan untuk memberikan pengenalan dunia fotografi sejak dini kepada anak-anak.
"Sebab dalam acara ini pun, dimana anak-anak yang menjadi 'model' pemotretan, dipadu juga dengan tehnologi cetak cepat, sehingga mereka bisa langsung mempelajari hal yang dianggap kurang dalam pemotretan," kata Hendra.
Jepret, cetak, analisa. Metode itulah yang digunakan dalam kegiatan ini."Walaupun bisa dibayangkan, bagaimana serunya memotret ratusan anak yang memang punya karakter berbeda, namun tetap harus terlaksana dalam waktu satu jam setengah, jelas Hendra yang memang menjadi fotografer tunggal dalam acara ini.
"Bukan hanya persoalan si anak menangis saat melihat flash besar saat pemotretan itu saja, tapi dalam pemotretan juga ada yang minta ditemani orang tuanya saat pemotretan, bahkan tak jarang justru orang tuanya sendiri yang heboh, dan bergaya lebih model, ketimbang si anaknya sendiri, pokoknya suasana yang terbangun menjadi seru," ungkap Hendra.
100 Foto Untuk Anak Indonesia, menurutnya adalah kegiatan yang akan menjembatani dunia anak-anak, digital dan kemampuan si anak saat belajar di dunia modeling.
Sementara itu, untuk terlaksananya kegiatan ini, Ogie Sigit, pendiri Starkid, mengerahkan ratusan anak didiknya dari sejumlah kawasan di Jakarta.
"Kolaborasi Starkid dengan RPM, juga dimaksudkan untuk memberikan warna baru bagi pengetahuan anak-anak di dunia fotografi, dan Starkid merasa proses kegiatan pemotretan ratusan anak ini memang berbeda dari kegiatan yang sebelumnya kami lakukan," ujar pria yang akrab disapa Kak Ogi ini.
Sedangkan menurut Budi Hartono, yang mewakili Spectre yang menjadi ujung tombak terlaksananya proses cetak cepat pada acara tersebut, mengatakan, pihaknya pun merasa tertantang dalam keterlibatannya di acara ini.
"Jika saja yang menjadi objek pemotretan adalah model dewasa, tentu masih bisa terkondisi dengan mudah. Tapi ini yang kita foto adalah anak-anak yang berusia dari 4 hingga 11 tahun, bisa dibayangkan, saat 'run away' pemotretan, ada saja tingkah dan polahnya. Yang akhirnya kami anggap hal itu sebagai nuansa lain dari pengalaman kami yang berbeda,"" ujar Budi.
Tambah Budi, jangankan saat pemotretan satu persatu, disaat pemotretan bersama saja, tidak sedikit anak yang merengek meminta makan atau meminta diberlikan mainan dari orang tuanya. "Ya, bagaimana, kami pun tidak ingin kegiatan ini menjadi beban bagi si anak. Namun di satu sisi kita pun harus berjalan sesuai waktu yang sudah ditentukan oleh RPM.
Bagi Budi, kegiatan 100 Foto Untuk Anak Indonesia, dengan tehnologi cetak cepat, merupakan tantangan yang belum pernah dia alami. "Tapi beruntung dengan tekhnologi printer yang kami miliki, maka, usai jepret, dan foto tercetak hanya membutuhkan waktu 45 detik saja, dan hasilnya bisa langsung didiskusikan oleh si anak, orangtua dan fotografer.
Sementara hasil foto yang sudah dicetak itu rencananya akan dibuat menjadi materi pameran foto yang memiliki sinergi atas kegiatan anak-anak di Indonesia. (*/jaya)

Post a Comment

0 Comments