Tekan Angka Perceraian dan KDRT, DPAPMK Depok Gelar Sekolah Pra Nikah

KabarPublik-Margonda
Untuk menekan angka perceraian dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Depok, Dinas Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Keluarga (DPAPMK)Kota Depok kembali menggelar Sekolah Pra Nikah bagi para kaum muda milenia.
Bunda Elly menjadi pembicara di acara Sekolah Pra Nikah. 

Sekolah pra nikah bertema "Yuk menjemput jodoh dengan ilmu"  yang bertujuan menguatkan keluarga diikuti sebanyak 50 remaja milenia ikut dari seluruh kecamatan di Bank Jabar-Banten (BJB) , Selasa (9/7/2019).
Tampil sebagai nara sumber, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Depok Hj. Elly Farida mengharapkanpara remaja yang mengikuti kegiatan ini dapat memperoleh penjelasan tentang bagaimana menyiapkan satu keluarga yang membutuhkan kesiapan mental calon suami dan isteri.
"Selain itu, baik calon suami atau isteri telah menyiapkan ekonomi untuk biaya hidup saat mereka sudah berkeluarga", kata Bunda Elly sapaan akrab Elly Farida. 
Melalui Sekolah Pra Nikah ini,  menurut Bunda Elly, DPAPMK memberikan pembekalan ini sebagai upaya membantu generasi milenial dalam membantu dan menyikapi konsep pernikahan.
Selain itu Pemkot Depok tidak ingin angka perceraian di Kota Depok terus meningkat grafiknya.
Data Pengadilan Agama Kota Depok, pada tahun 2017 ada 3.087 kasus perceraian dan pada tahun 2018 ada 3.525 kasus perceraian.
Tahun 2019 ini, sudah ada 292 permohonan yang dibatalkan atau dikabulkan pada Januari 2019. Sementara selama Februari 2019, ada sebanyak 304 kasus.
Bertitik tolak dari data tersebut, pihak Pengadilan melaporkan jumlah rata-rata kasus perceraian sebanyak 20 kasus per hari. Bahkan, terjadi tren Peningkatan perceraian dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Kepala DPAPMK Kota Depok, Nessi Annisa Handari, saat membuka kegiatan ini mengatakan, melalui sekolah pra nikah untuk membekali generasi yang membutuhkan pernikahan yang tangguh. Di samping itu, agar remaja terhindar dari seks, nikah juga menghindari pernikahan dini.
“Kami juga ingin memberikan pemahaman tentang keluarga, membekali remaja dengan kecakapan hidup, membantu penyiapan kehidupan yang berkelanjutan dan terencana untuk remaja dalam mencapai pendidikan jenjang, dan menikah,” tutur Nessi. (jaya) 

Post a Comment

0 Comments